Minggu, 19 Februari 2012

masalah gizi di indonesia

Gizi dan permasalahannya.
Berbicara masalah gizi, kita tidak terlepas dari pembahasan mengenai zat-zat makanan atau nutrisi yang masuk kedalam tubuh. Makanan yang bergizi adalah makanan yang mengandung zat-zat nutrien yang dibutuhkan oleh tubuh agar tubuh dapat melakukan fungsi-fungsinya dengan sebaik-baiknya. Dengan perkataan lain zat gizi sangat diperlukan oleh tubuh untuk pertumbuhan, perbaikan jaringan dan pemeliharaan tubuh beserta semua fungsinya. Sejak dari masa janin, bayi, remaja sampai ke masa dewasa dan lansia (lanjut usia), manusia membutuhkan zat-zat yang berguna untuk membantu fungsi semua organBanyak masalah-masalah kesehatan yang dapat ditimbulkan akibat tidak adanya keseimbangan gizi yang lebih dikenal sebagai akibat gizi salah. Gizi salah yang diderita pada masa janin (dalam kandungan) dan masa anak-anak dapat menghambat antara lain kecerdasan, motivasi, kesanggupan belajar. Selain itu, ada dugaan bahwa gizi salah yang diderita pada masa janin dapat menimbulkan kelainan kromosoma yang bisa berakibatkan pada perilaku abnormal ataupun kelainankelainan yang akan bertahan selama hidup. Masalah lain yang dapat diakibatkan oleh gizi salah ini adalah gangguan perkembangan Fisik. Suatu studi yang dilakukan di India menunjukkan bahwa 90 % dari 3000 anak yang berasal dari keluarga dengan tingkat ekonomi rendah mempunyai ukuran tubuh lebih kecil dari ukuran normal. Keadaan seperti ini merupakan gambaran umum dari masyarakat di negara-negara yang secara ekonomi tergolong kurang berkembang. Masih berkaitan dengan berat badan lahir yang rendah, pada suatu penelitian yang dilakukan di Hertfordshire (lnggris) ditemukan bahwa bayi-bayi yang dilahirkan dengan berat badan kurang dari 2,5 kg mempunyai resiko yang besar untuk menderita penyakit jantung koroner. Namun yang cukup menarik dari penelitian tersebut bahwa resiko itu menjadi menurun bila kekurangan tersebut dapat dikejar sehingga mencapai berat badan yang normal (Barker,1992). Jadi jelas sekali bahwa perawatan yang tentunya termasuk gizi dalam hal ini cukup menentukan kondisi seseorang selanjutnya dan ini tentunya sedikit banyaknya akan berkaitan dengan produktifitas kerja dan kualitas hidupnya di kemudian hari. Sebenarnya, dalam pembahasan gizi salah yang dapat menimbulkan masalah
kesehatan tidaklah semata-mata hanya keadaan kurang gizi, namun kelebihan gizipun dapat menimbulkan gangguan pada manusia. Jadi kalau kita tilik lebih dalam yang tergolong dalam gizi salah (malnutrisi) ini ada dua golongan, yaitu kurang gizi (under nutrition) dan kelebihan gizi (over nutrition). Jelas, bahwa gangguan atau penyakit yang ditimbulkan oleh golongan kedua ini lebih banyak dijumpai pada masyarakat di negara-negara maju seperti penyakit jantung koroner, darah tinggi
Di Indonesia, berdasarkan data yang dikumpulkan oleh BPS melalui modul SUSENAS tahun 1986, 1987, dan 1989 serta hasil survai Vitamin A tahun 1978 menunjukkan adanya penurunan prevalensi gizi kurang dan gizi buruk yang cukup bermakna. Pada tahun 1978 prevalensi gizi kurang dan gizi buruk di Indonesia sebesar 15,9% yang kemudian menurun hingga 10,5% pada tahun 1989. Demikian pula prevalensi Kurang Energi Protein (KEP) berat juga mengalami penurunan dari 3% menjadi 1,4% dalam kurun waktu yang sama. Keadaan ini menunjukkan adanya kecenderungan peningkatan energi dan protein rumah tangga Kecenderungan ini selain disebabkan sudah mulai menurunnya jumlah penduduk yang miskin, juga pemerintah giat melakukan berbagai program upaya perbaikan gizi masyarakat. Sedangkan masalah GAKI di negara kita masih merupakan masalah yang cukup besar. Data tahun 1990 menunjukkan angka prevalensi nasional GAKI dalam bentuk angka penyakit gondok sebesar 27,7%. Angka ini hila dibandingkan dengan data tahun 1982 (37,2%) telah mengalami penurunan. Namun bila diperhatikan per propinsi, masih terdapat beberapa propinsi yang justru menunjukkan peningkatan prevalensi.Walaupun permasalahan kesehatan yang masih berkaitan dengan gizi kurang masih cukup banyak dijumpai di Indonesia, namun saat ini permasalahan gizi lebih sudah mulai meningkat terutama di daerah perkotaan di Indonesia. Hal ini terlihat dari Survei kesehatan Rumah Tangga (SKRT) dimana penyakit kardiovaskuler yang pada tahun 1972 merupakan penyebab kematian peringkat 11 menjadi peringkat ke-3 pada tahun 1986 dan pada SKRT 1992 menjadi penyebab utama kemaatian di Indonesia. Dengan melihat kondisi ini, maka saat ini Indonesia sedang menghadapi dua masalah atau problema ganda gizi dimana diperlukan pemecahan masalah yang tepat sehingga diharapkan kualitas sumber daya akan meningkat yang pada akhirnya juga berhubungan dengan tingkat produktifitasnya. Secara umum, permasalahan gizi dan pangan dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain faktor demografi seperti pertambahan jumlah penduduk, laju pertumbuhan penduduk yang tinggi, besarnya proporsi penduduk usia muda, penyebaran penduduk yang tidak merata, perubahan susunan penduduk; faktor sosial ekonomi dimana terjadinya peningkatan kesejahteraan masyarakat, meningkatnya laju pertumbuhan ekonomi yang secara baik langsung berpengaruh pada pendapatan keluarga. Selain itu, faktor lain yang berpengaruh pada masalah gizi dan pangan adalah perkembangan IPTEK dimana terjadinya arus moderenisasi yang membawa banyak perubahan pada pola hidup masyarakat termasuk pada pola makan. Salah satu dampak dari arus moderenisasi terhadap Dla makan adalah meningkatnya konsumsi lemak. Tidak heran kalau kita lihat bahwa penyakit jantung koroner cenderung meningkat akhir-akhir ini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar